Jembatan Gladak Perak atau Piket Nol Lumajang


Piket Nol. Nama yang sangat asing ditelinga saya. Sejenak terfikir, dapat inspirasi dari mana kok bisa dinamai seperti itu. Karena baru pertama kali mendengar namanya pas di lokasi, saya sedikit terheran dan setelah beberapa waktu saya pun mencari informasi di internet akan nama tersebut. Ternyata informasi yang saya dapat juga malah membingungkan saya. Muncullah nama Gladak Perak. Nah lho. Ini yang benar yang mana?

Baik, sebagai inisiatif saya menyimpulkan bahwa Jembatan Gladak Perak itu ya Piket Nol itu sendiri. Di luar kawasan Malang - Lumajang jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Piket Nol sedangkan warga daerah sekitar menyebutnya Gladak Perak. Piket Nol sendiri sesungguhnya adalah kawasan jalur titik tertinggi di jalan jalur selatan yang menghubungkan kota Malang dengan kota Lumajang. Kawasan ini penuh dengan pemandangan yang indah serta sedikit ekstrim karena berkelok-kelok mengikuti jalur sungai dengan sisi sebelah jurang dan sisi lainnya tebing.

Nah di lokasi sesungguhnya ada 2 jembatan juga. Apa yang satu namanya Gladak Perak dan satunya Piket Nol? Kembali ke inisiatif saya, kedua jembatan itu sama, hanya saja dibangun ulang dengan konstruksi yang lebih kokoh di sebelahnya karena jembatan ini merupakan akses vital dan tercepat antara Malang - Lumajang.


Jadi disini kita sepakat sebut Jembatan Piket Nol. Jika ada kesalahan mohon dikoreksi, :)

Sejarah dan Legenda

Jembatan ini dibangun sekitar tahun 1925 hingga tahun 1940 oleh pemerintah kolonial Belanda. Jembatan ini pernah dihancurkan pada tahun 1947 oleh Zeni Pioneer (22 Jatiroto) untuk menghambat pergerakan tentara Belanda dari Malang masuk ke Lumajang. Jembatan ini dibangun kembali pada tahun 1952. Foto-foto saat jembatan ini selesai dibangun pertama kali dulu disimpan oleh KILTV Nederland, yang juga bisa ditemukan banyak di internet.

Asal muasal nama Gladak Perak terdapat beberapa versi, entah mana yang benar. Menurut pendapat beberapa masyarakat setempat, nama perak dihubungkan dengan warna cat dari jembatan Gladak Perak yang lama, yang akan sangat mencolok ketika disinari cahaya matahari. Versi lainnya mengatakan bahwa untuk pembangunan jembatan ini perlu menghabiskan begitu banyak uang perak. Sedangkan legendanya sendiri mengatakan bahwa untuk membangun jembatan ini, digunakan Gelang Perak milik seorag penarik ledek yang cantik sebagai tumbal. Hal tersebut karena banyaknya pekerja yang jatuh ke sungai Besuk Sat saat pembangunannya, sehingga diperlukan tumbal sebagai penolak bala.


Ada banyak cerita yang beredar mengenai legenda jembatan Gladak Perak yang sedikit membuat bulu kuduk berdiri. Rumor yang beredar di masyarakat sekitar adalah bahwa pada masa penumpasan G30S/PKI, jembatan ini menjadi lokasi pembuangan mayat. Itulah sebabnya dulu banyak orang yang memilih untuk tidak melewati jembatan ini pada malam hari. Karena sering ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan di sekitar jembatan. Namun dewasa ini jalur tersebut tetap banyak dilalui kendaraan walaupun saat tengah malam. 
Sumber : http://www.nnoart.com/

Akses dan Lokasi

Jembatan ini berada di kawasan piket nol yang termasuk dalam kecamatan Pronojiwo, Lumajang. Berada di lokasi dengan ketinggian 750 mdpl, di bawah kaki gunung Semeru atau sekitar 34 km sebelah barat kota Lumajang. Di lokasi piket nol terdapat sebuah Jembatan Besuk Kobo’an, atau warga sekitar menyebut Jembatan Gladak Perak yang menghubungkan dua sisi bukit batu yang curam dibuat sekitar tahun 1925-1930 oleh pemerintah Kolonial. Nah jelas kan antara nama Gladak Perak dan Piket Nol. Jangan bingung sama Besuk Kobo'an. Anggap saja itu nama alias.

Cerita Kami

Sederhananya jika kita ingin berpergian antara daerah Malang - Lumajang dan sebaliknya kita pasti lewat daerah ini. Waktu itu kami dari Lumajang menuju Air Terjun Kapas biru dan jelas  melewati Kecamatan Pronojiwo dan menemuilah jembatan ini. Dari kejauhan jalur berkelok sudah telihat tiang -tiang penyangga yang berdiri gagah yang sempat saya bicara dalam hati, bangunan apa itu. Ternyata jembatan. Jika akses dari malang tak seberapa terlihat karena posisi jembatan ada di bawah kita.


2 Comments

  1. I truly like the way you wrote this blog, my brother 👍👍;detailed, making your readers understand clearly what they were within your stopping by while passing this high value of heritage. I,along with my fam, were there last week (Jan 18th,2021);we spent about an hour enjoying this fantastic spot. Likewise, we were on the way to Malang,& it was my (our) first visit to this Dutch colonial Legacy. Salam kenal, saudaraku. (Benny Setiawan_ Jember, Jawa Timur)

    ReplyDelete