Enter your keyword

@kagung13

kagung13.blogspot.com | kagung13@gmail.com

Pantai Petualang Watulumbung

By On April 08, 2017
Kalau kebanyakan akses ke pantai itu jalannya landai dan aspal halus, terutama di daerah Pantai Gunungkidul ini, beda cerita kalo akses menju pantai Watulumbung. Itu kenapa saya bilang Pantai petualang. Jalan makadam, becek sehabis hujan, naik turun dan berliku. Ini yang sempat terbesit di pikiran saya bahwa mendapatkan hal yang indah emang harus melalui jalan terjal. Dan ini dia hadiah jalan terjal, becek gak ada ojek :)
watulumbung

Akses dan Lokasi

Kalau pernah ke Pantai Wediombo, terus lihat batu besar di depan agak kanan arah jam 2, itu di yang namanya Watulumbung. Berlokasi di kawasan Gunung Batur, dusun Widoro, desa Balong, kecamatan Girisubo, kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Merupakan salah satu pantai yang terbentuk akibat letusan gunung api purba dengan bongkahan batu raksasa yang tampak seperti pulau yang terpisah dengan daratan. Rute menuju kesini mudah, ikuti jalur ke arah Wediombo, nanti ada plakat ke kanan arah Gunung Batur dan Pantai Watulumbung. Jangan bingung, aksesnya emang ciamik (makadam, cor, dan tanah becek). Kira-kira 20-30 menitan akan sampai di area watulumbung. Ada 2 pilihan Parkir, langsung ke bawah atai ke atas yang dapat melihat view pantai dari ketinggian.
wediombo
Pantai ydi depan, itu Pantai Wediombo. Pantainya luas sekali sesuai namanya (wediombo = pasir yang luas)
wediombo
Vie laut dan bukit dari ketinggian. Lokasi : Tuhu Papan nama Pantai Watulubung
Pantai ini cocok sekali buat penyuka antimainstream, dimana aksesnya keren untuk petualang banget. Sebelem dibenahi akses jalannya, cobain sensasinya sesegera mungkin. Karena di area atas sudah mulai dibangun, sehingga jalannya pun kemungkinan akan juga dibenahi. Tapi overall dari atas sini viewnya tetep bagus kok, walaupun nanti jalannya sudah jadi, pantai ini pasti tetap menarik.

Untuk menikmati pantainya kita harus turun ke bawah, gak jauh kok dan aksesnya mudah, banyak juga gazebo penjual makanan dan minuman, jadi gak perlu khawatir kelaparan dan keharusan. Tapi saran sih bawa air mineral sendiri untuk jaga-jaga. Karena waktu yang semakin sore, team kami memutuskan segera pulang tanpa turun ke pantai, hanya mampir di gazebo saja. See you next trip. :)

Cagar Alam Geologi Gunung Batur

Sekilasi Cagar Alam Geologi Gunung Batur yang terletak sejalur dengan Pantai Watulumbung ini merupakan sebuah bukit yang merupakan dataran tinggi dimana view laut dapat terihat dengan bagus. Di area ini juga terdapat Bukit Pengilon yang namanya juga cukup booming. Karena situasi dan kondisi tak memungkinkan untuk melakukan kegiatan eksplore saat itu, mungkin next time bisa kami lakukan. Alhasil mengabadikan moment bersama papan namanya saja.
gunung batur
Team Touring hari ini. Zaky, Totok, Mas2 Vixion (Saya mah penggembira doang alias team hore)

Pantai Sadeng, Sisi Lain Sebuah Pantai

By On April 08, 2017
Sisi lain dari sebuah obyek wisata, pantai, pelabuhan, dan pelelangan ikan. Pantai Sadeng
Gunungkidul dengan segala keunikannya ditambah sejarahnya yang kalau dikaji bagi penyuka sejarah dan ilmu geologi pasti sangat menarik. Ketika pertama kali masuk ke area ini, sebenarnya yang kita temui adalah gapura bertuliskan "Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng". Dan pertama kali view yang disuguhkan adalah aktifitas nelayan dan pelelangan ikan, serta kapal-kapal yang parkir berjajar dengan rapi.

Akses dan Lokasi

Pantai ini berada di Desa Songbanyu, kecamatan Girisubo, kabupaten Gunungkidul. Titik Koordinat GPS Pantai Sadeng adalah -8.189210,110.799264. Banyak rute yang dapat ditempuh untuk dapat sampai ke pantai ini. Jika ingin melaukan penyusuran pantai mulai dari sisi Barat, yaitu arah pantai Baron, Krakal, dan Kukup, Ada lagi melalui jalur Semanu, Gunungkidul.
  • Dari Wonosari atau lebih tepatnya ke arah Pantai Baron, di pertigaan Desa Mulo, kalau lurus ke Pantai Baron, ambil arah kiri jurusan Mantel. Sepanjang jalan ini arah ke arah Girisubo banyak sekali juga pantai yang dapat disinggahi seperti Kukup, Krakal, Drini, dsb. Dari situ anda bisa menuju ke Bintaos, dari Bintaaos ada menuju ke daerah Tepus. Sesampainya di Tepus anda bisa menuju ke pertigaan Pasar Jepitu, dari arah situ anda bisa belok menuju ke arah Desa Girisubo.
  • Dari Semau kemudian ke daerah Giripanggung. Saat ada di Giripanggung, bisa menuju ke Cuelo kemudian ke arah Pertigaan Pasar Jepitu. Sampai di pertigaan pasar ini, jalur yang anda tempuh sama dengan jalur di atas.
sadeng
Jalur ke Pantai Sadeng via Semanu By Google Maps

Sejarah

Sejarah Pantai ini sangat menarik. Pantai Sadeng ini sering dikaitkan dengan Sungai Bengawan Solo yang Legendaris itu. Makanya saya agak penasaran juga pas beberapa waktu sebelum pantai sebelah kiri jalan ada seperti bekas kali raksasa bertuliskan Sungai Bengawan Solo Purba. Nahlo, akhirnya semua terjawab melalui ini : 
Sungai Bengawan Solo pada jaman dahulu bermuara atau mengalir di Pantai Selatan, hal itu sekitar 4 juta tahun yang lalu. Sayangnya aliran itu menjadi terhenti ketika lempengan Australia menghunjam di bagian bawah Pulau Jawa. Dataran yang ada di Pulau Jawa pun terangkat sehingga aliran Sungai Bengawan Solo menjadi berbalik ke utara atau menuju ke Laut Jawa.
Sebelum menjadi pelabuhan ikan yang cukup besar seperti sekarang, dulunya Pantai Sadeng hanyalah pantai sepi dan dipercayai sebagai pantai yang wingit. Namun rombongan nelayan Gombong yang melaut dikawasan itu mematahkan mitos tersebut. Mereka berhasil melaut dan mendapatkan tangkapan ikan dalam jumlah yang banyak. Akhirnya sejak saat itu Pantai Sadeng berkembang sebagai pelabuhan perikanan bahkan kini menjadi pelabuhan ikan terbesar di Jogja dengan sarana yang lumayan memadai.

Unik dan Asik

sadeng
Disini emang gak kayak Pantai lain yang eksotis, berbibir pantai luas, pasir putih, dan sebagainya. Tapi kita bisa belajar banayk tentang sejarah di sini, mengetahui sisi lain sebuah pantai, melihat proses pelelangan ikan, melihat perahu nelayan berjajar beserta aktifitasnya, memancing, bakar ikan, menikmati kuliner, main air, dan wisata pantai. Semua bisa kita lakukan di tempat satu ini.
sadeng
Yang juga unik yaitu Batu Pemecah Ombak di Pantai ini. Fungsi batu pemecah ombak itu digunakan sebagai pemecah ombak sehingga ombak yang datang tidaklah terlalu besar sebab telah menghantam batu pemecah ombak tersebut. Keunggulan dari batu pemecah ombak yang ada di Pantai Sadeng ini adalah susunannya yang bagus dan rapi sehingga pengunjung betah berlama lama ada disini. Saat ombak sedang tenang, pengunjung bisa berselfie ria di batu pemecah ombak ini. Namun saat ombak sedang ganas atau besar, diharapkan pengunjung untuk tidak melewati batu pemecah ombak tersebut.
Di sini bisa juga digunakan untuk memancing, terjepret seorang remaja sedang memancing disana. Selain itu juga terlihat beberapa warga lokal menggunakan jala untuk menangkapikan yang berada di sekita tepian pantai.Dari tepi pun sudah keliatah bahwa ikan di sini banyak sekali.
sadeng
Nah lokasi pantainya sendiri cukup sempit dan bahkan bisa dibilang sangat sempit. tetapi cukup keren untuk dinikmati dan berenang. Airnya pun terlihat perpaduan warna biru dan hijau yang cantik.

Selama perjalanan, disuguhi pemandangan yang sepi dan asri khas perhutanan. Dengan jalan aspal yang sangat bagus, akses lokasi bisa dibilang cukup nyaman. Selalu gunakan gps/peta lokasi untuk mengunjungi pantai di daerah ini. Jalur yang ditawarkan cukup banyak dan bercabang, walaupun pada akhirnya akan bertemu pada daerah pantai, tetapi pastikan sesuai dengan tujuan kita agar menghemat waktu. Terakhir jika merasa ragu, jangan sungkan untuk bertanya. Warga sekitar sini sangat welcome kok, dengan catatan kita bertanya juga secara sopan dan sesuai tata krama. See  you next trip.:)

Nebeng Trip Family Gathering, TPS Goes To Bali

By On March 19, 2017
Bali
For the first time, saya menginjakan kaki di Pulau Bali, yaitu di aspal Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Berbekal nimbrung acara Family Gathering PT. Terminal Petikemas Surabaya, saya bersyukur sekali banyak hal yang unpredictable menjelang menit-menit akhir keberangkatan dan akhirnya mengubah seluruh rencana buta trip ke Bali ini. But, overall it's awesome. Oke let's start from Juanda International Airport, Surabaya.

Jumat, 10 Maret 2017 pukul 05.00 WIB absen pulang dari kantor yang langsung prepare untuk menuju Bandra. Sampai di Bandara sekitar pukul 07.30 WIB yang sudah beberapa siap untuk flight jam 10.00 WIB (pagi amat yah. hehehe). Penerbangan dengan Lion Air JT - 922 dan yang lucunya saya malah tidur di pesawat sejak sesaat setelah lampu tanda sabuk pengaman dapat dilepas sampai berada di atas bandara Ngurah Rai, sesaat sebelum landing. Hahaha, sempet sedikit liat indahnya Bali dari atas, tapi sayang pas gak didekat jendela jadi gak begitu maksimal ngelihat viewnya.

Sampai di Ngurah Rai, Bali sekitar pukul 12.15 WITA, dan langsung otw menuju Hotel (Haris Riverview Kuta). Nah disini acara dimulai setelah selesai istirahat sekitar pukul 16:00 WITA dengan rundown yang ayok kita liat sampai last day!

Day 1 (Jimbaran Beach)

Temanya sih Sunset Dinner di Avatar Cafe Jimbaran. Jadi kita itu dinner di pantai dengan view sunset. Menunya juga mewah banget, suasananya adem, asik, romantis lah buat manten anyar, syahdu juga buat ngabisin waktu sama keluarga, dan yah gitu-gitu aja buat yang bujang. Hahaha. Tapi overall keren viewnya, makannya lezat, suasananya ciamik, recomended banget lah buat honeymoon atau acara keluarga, dengan budget yang besar juga tentunya. Hehehe.
Jimbaran
Dinner at Avatar Cave, Jimbaran, Bali. (Foto by @sampambudi).
Jadi acara selesai jam pukul 20.00 WITA, langsung kembali ke hotel kemudian istirahat. Free program juga buat yang mau menikmati Bali di malam hari.

Day 1 (Kuta Beach, Nihgt in Bali)

kuta
Nah ini acara yang mentang dari acara intinya. Jadi jadwal acaranya udah berhenti di pukul 20:00 WITA, tapi dipersilahkan untuk yang mau jalan-jalan di Bali malam hari. Kebetulan Hotel deket dengan pantai Kuta, ya coba lah kita bujang-bujang main ke sana, sambil nyusuri Jalan Legian, yang pada tahu kan sama Hard Rock Cafe. Liat doang kagak masuk. :)

Day 2 (Tanah Lot Beach)

tanah lot
Start dari Hotel pukul 10.00 WITA, perjalanan 1 jam dengan patwal yang kemudian sampai di lokasi sekitar pukul 11.00 WITA. Nah disini ada beberapa lokasi yang menarik diantaranya Pura Batu Bolong, lokasi pantai, Pulau dimana terdapat Air Suci, dan Gua tempat tinggal Ular Suci yang disucikan oleh masyarakat setempat. Ada juga spot rumput hijau yang bisa buat tidur-tiduran dan ngobrol asik keluarga. Bangunan-bangunan khas Bali seperti Pura dan lainnya juga banyak ada di sini.
tanah lot

Day 2 (Pandawa Beach)

pandawa
Next destination kita ke Pantai Pandawa, lumayan jauh juga perjalanannya sehingga kita bisa istirahat tidur-tiduran di bus. Sampai lokasi sekitar 14.30 atau 15.00 WITA gitu saya lupa. Yang menarik disini menurut saya kita disambut patung tokoh Pandawa sebelum masuk ke lokasi pantai, pantainya sih bagus lah, asik juga kalo buat main air, kalo saya lebih suka jepret-jepret mengabadikan momen.

Day 2 (Garuda Wisnu Kencana Culture Park)

Dari seluruh destinasi, disini yang membuat saya berkesan. Tiba di lokasi sekitar pukul 17.00 WITA, disini dijadiin tempat photo sesion rombongan. Lokasi bukit kapur dengan ukiran patung dan ornamen yang keren banget. Start from Lotus Pond, Next Plasa Garuda, lanjut Plasa Wisnu. View paling bagus tuh di sini, Plasa Wisnu, kita bisa lihat mana-mana dari sini. Benoa, Ngurahrai, Laut, pantai, kota, jalanan, tol laut, kelihatan semua disini.
Garuda Wisnu Kencana
Nah yang gak kalah seru pagelaran tari kecak waktu itu yang kalo gak salah ngambil cerita gimana Garuda itu bisa jadi tunggangannya Wisnu, gitu sih dari yang saya baca dari pementasan. Diiringi juga taari-tarian sama sedikit guyonan para pemainnya, overall keren kagak abis-abis, terakhir ditutup dengan pertunjukan api yang sedikit membuat jantung berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang. :)
kecak
Terakhir kita makan di Jendela Resto, letaknya di samping, searea dengan lotus pond, nah disini view nya juga bagus, bisa lihat mana-mana juga, apalagi pas acara makan malam, disuguhi juga tarian khas bali sama pemandangan kota malam hari dari ketingian. Asoy lah.

Udah gitu aja hari keduanya, sayang banget karena capek dan kurang enak badan, saya jadi gak bisa eksplore bali malam kedua, alhasil sedikit kecewa tapi ya harus ikhlas. ;)

Day 3 (Monumen Bom Bali I)

hotel
Nah ini sedikit penggalan cerita dimana saya terbangun pagi pas pukul 04.30 WITA, saya segera bangun mandi dan gak ngerti pokonya pingin jalan aja keliling-keliling gitu karena acaranya juga free, saya berjalan ke arah pantai Kuta (lagi) sambil iseng-iseng cari udara segar, nah saya mampir sebentar di monumen ini. Pada inget kan kasus Bom Bali 12 Oktober 2002, ini monumenya. Udah kusam sih tapi kagak ngerti pas lewat disini hawanya sedikit gimana gitu, tiba-tiba terpikir flashback ke 15 tahun silam andi saya ada di sini, sambil mengamati satu persatu nama korban. Moment of Silent.
bom bali
Sempet mampir juga di pantai Kuta (lagi) di pagi hari saat itu sekita pukul 07.00 WITA, suasananya asik banget, anginnya, airnya, orang-orangnya. Gak rame-rame amat,satu dua orang yang jogging di pantai, sepedaan juga, kalo saya sih cuma duduk ngeliatin orang-orang sambil sesekali liat ada pesawat yang take off dari bandara Ngurah Rai. Lanjut balik ke hotel.
kuta

Day 3 (Free Program)

Namanya juga fre program. Udah kebaca yang saya lakuin ya males-malesan. Jadwal checout pukul 12.00 WITA, saya baru ngumpulin bagasi jam 11.00 WITA, sisanya yah sarapan dengan porsi menggila, main air di kolam renang hotel yang airnya nyaman banget, kagak dingin, kagak panas juga. Pas dan sueger banget, apalagi pagi, suasananya pas.

Day 3 (Joger dan Khrisna Pusat Oleh-oleh)

Di Krisna kita mampir makan, sama belanja. Karena belanja itu butuh skill dan saya kurang paham sama skill belanja, akhirnya yawis muter-muter aja di sini sambil liat orrang-orang pada belanja. Sibuk aja muter ngawasin orang-orang, bercanda-canda juga, dan terakhir goes to Joger. Karena kagak boleh ada bus besar yang parkir di area joger, maka dari krisna kita naik angkot PP Rp 20.000 ke Joger. Joger yah pada tahu sendiri kan tempat oleh-oleh dan kaos kata-kata. Sampai akhirnya menghabiskan waktu hingga pukul 17.00 WITA, cuz otw Bandar Ngurah Rai.

Day 3 (Go Home)

Pesawat kami Lion Air (JT - 919) keberangkatan pukul 20.00 WITA. Sedangkan pukul 17.30 WITA kita sudah samapi bandara disertai hujan ringan yang katanya baru terjadi di Bali setelah beberapa minggu. Ada keasikan tersendiri nunggu di Bandara, gak kerasa bosen sih, tapi juga pinginya cepet-cepet naik pesawat terus pulang. Sekitar pukul 19.45 seluruh penumpang mulai memasuki pesawat, lha kok ya ternyata setelah semua masuk, pesawat delay sekitar 30 menit karena infonya gak dapet slot parkir di Bandara Juanda. Gak lama sih karena di dalam pesawat sambil nunggu yah ada aja yang dikerjain, jadi gak kerasa pesawat mulai begerak. Dan iyanya lagi saya kembali tidur mulai dari pesawat take off sampai tahu-tahu terbangun karena kerasa roda pesawat sudah bersentuhan dengan aspal Bandara Juanda. Lha kok ndelalah hujan disana. Saya berfikir pasti tadi di atas juga glodakan paling pesawatnya karena hujan. Hahahaha.

Oke, alhamdulillah sampai di Surabaya dengan selamat. Selesai liburan kita, Terima Kasih buat PT. Terminal Petikemas Surabaya yang udah ngasih liburan asyik ke Bali dan kesempatan gabung ikut ngurusin orang-orang. Selamat Ulang Tahun yang ke 18, Semoga semakin jaya dan berkah ke depannya. Great Family Great Company. :)
tps

Resolusi, Terlambat Boleh, Gak Sama Sekali Jangan.

By On March 02, 2017
Kok ya resolusi gitu lho, kayak kagak ada bahasan lain. Udah telat pula. Hahahaha.

Lumayan lama setelah terakhir kali postingan di blog ini muncul, rasanya berat juga ngumpulin niat buat nulis lagi. Setelah sempat terseok-seok dengan beberapa hal yang bisa dibilang kagak penting, tapi emang kadang kemauan itu muncul seketika, "mak bedunduk", tiba-tiba gitu aja.

Masih gamang mau nulis apa di postingan kedua tahun 2017, dan yang pertama tentang hal baru tahun ini. Mungkin sedikit bahas resolusi aja yang biasa dibilang telat banget buat ngomongin resolusi, secara sekarang udah bulan Maret 2016 dan 2 bulan kemaren, ngapain aja? :)

Ya itu dia, kagak ngapa-ngapain itu point yang bisa dibilang sia-sia banget. Sebenernya ngapa-ngapain sih, cuma lebih enggak ter-ekspose aja. Biar lebih secreat gitu lah. Hhahaha. Jadi beberapa bulan lalu di awal tahun ini, jadi bulan yang sulit buat saya untuk benar-benar move dari semuanya. Alhamdulillah setelah bisa sedikit berada di zona nyaman yang baru, saya coba lagi dengan tantangan yang baru lagi.

Melanjutkan studi adalah cita-cita terbesar saya sampai saat ini, Nah disini dilema dimulai. Saya inget banget saat posisi MOM, saat itu ada seorang Profesor yang menyampaikan ke semua yang hadir kurang lebih seperti ini, "Di era sekarang ini, banggalah dengan almamater Anda, tanpa melihat status negeri atau swasta, karena sejatinya menjadi Mahasiswa adalah bagaimana nantinya kita harus bisa bermanfaat untuk masyarakat, maka dari itu jadilah organik, dan bisa membaur dimanapun". Salah satu pemicu semangat buat sadar bahwa pendidikan itu penting bukan buat saya saja tetapi untuk masyarakat sekitar, untuk orang lain, minimal keluarga besar dan keluarga kecil saya.

Sedangkan menginjak 24 tahun bukan umur yang main-main lagi. Seharusnya udah mikir nikah sih tapi kok ya yang mau diajak nikah itu lho siapa? Hehehehe.. Planing cantik yang sering ketulis kalo maksimal di angka 26 udah bisa tinggal serumah sama yang disebut "istri" terpaksa ngambang. Nah kalo ngelanjutin studi dari D3 ke S1 paling cepet sih 2 tahun lagi, itu kalo lancar. Mepet kan? Nah kalo kejadian 3 tahun? Karena niatnya sih gak buru-buru di tempat yang baru. Sebenernya ada opsi lain, nikahnya saat masih kuliah, dan kerja juga. Sebenernya ide bagus sih, tapi balik lagi ke pertanyaam, sama siapa? Hahahaaha.

Tentang ngelanjutin studi, banyak yang dipikirin juga tentang jurusan yang kemudian diambil, gimana nanti kedepannya, ada mahasiswanya apa enggak, akreditasinya gimana, dan bla bla bla lain sebagainya. Tapi gak tahu lah pada akhirnya udah tercetus gitu aja bahwa ngambil keputusan sebenernya simple aja, ambil, jalani, yang jangan liat kebelakang. Udah,kita yang berusaha biar Allah yang ngurus hasilnya.

Harapanya sih semua lancar-lancar aja sambil nunggu (sembari usaha) yang mau diajak serumah itu tadi. Hahaha. Nulisnya juga semoga makin lancar, blognya makin banyak yang baca dan menginspirasi. Semoga aja sih dengan banyak jatuh bangun, banyak support juga yang masuk bisa jadi dorongan positif buat saya. Terima kasih juga sama semua yang tetep dukung sampai sekarang, terima kasih juga pergi di tengah jalan, dan terima kasih juga buat yang akan datang di masa depan nanti. Dan Alhamdulillah syukur sama Allah atas semua yang terjadi. 

Memilih pergi bukan hal yang mudah dijalani, kayak di banyak film yang pernah saya lihat, saya tahu kenapa seorang Alexander Supertramp memilih menuju ke alam liar setelah melihat film nya, saya juga tahu bagaimana susahnya Cheryl Strayed move dari kehidupannya yang kacau balau tapi akhirnya syahdu banget kan diakhirnya. Dan lagi perjuangan dari seorang Aron Raltson yang kagak menyerah untuk bertahan hidup walaupun pada akhirnya dia harus kehilangan salah satu lengannya. Dan bahkan dia kemudian menjalani kehidupannya dengan lebih hebat. Dan gak kalah istimewa seorang Nick Vujicic yang semua pasti tahu lah. Saya tahu betul karena saya terbentuk dari hal-hal menyakitkan juga, tidak melulu dengan hal-hal menyenangkan. "Pain makes people change", Pilihanmu berubah jadi baik atau buruk.:)

Jadi udah kebaca kan gimana resolusi untuk tahun 2017 ini? Hahahaha, jangan baper, itu mah cuma setingan buat yang baca jadi terharu. Hahahaha, pencitraan sedikit boleh lah. Jangan dianggap serius, asikin aja. Karena saya sadar bahwa saya gak akan bisa buat golonga Pro dan Kontra buat nyatuin pandangannya tentang saya. Yang Pro, biarlah pro, yang kontra biarlah kontra. Saya berterima kasih kepada semua yang sudah nyempetin baca. :)

Jangan lupa resolusi kalian juga ya, jangan jadi sekedar resolusi. Jangan lupa juga, nikah! Hahahaha..

Bromo, Jatuh Cinta Tak Pernah Salah

By On January 03, 2017
bromo
Senin, 19 Desember 2016. Bromo (again) dengan cerita yang lain, jalur yang lain, orang yang lain, teman yang lain, gear yang lain, dan pengalaman yang lain. Tetap dengan Blade (sepeda motor saya) yang sama. Lebih dari setahun setelah Bromo pertama kali saya datangi, dimana saya juga nulis artikelnya dengan judul , "Bromo Meeen!", benar kata orang kalau jatuh cinta itu kagak pernah salah. Kesampaian juga menginjakan kaki disini dengan banyak sekali hal yang berbeda yang saya bawa, begitu pun Bromo, terlihat lebih cantik dan menawan saat itu.

Kita mulai dari Surabaya dengan segala kebiasaan ngaret yang belum bisa lepas, start dimulai pukul 16:00. Belum satu jam berjalan hujan sudah mengguyur begitu derasnya saat kami sampai di Porong, Sidoharjo. Dengan mantol lengkap kami terobos hujan hingga sampai di daerah Pasuruhan sekitar pukul 18:30. Disinilah dilema dimulai saat kami memilih jalur perjalanan antara melalui Paserpan atau Probolinggo. Dengan pertimbangan keamanan kami pilih jalur Probolinggo yang memakan waktu tempuh lebih jauh dibanding melalui Paserpan tetapi dengan akses jalur yang tidak terlalu menanjak dan Insya Allah aman di malam hari, walaupun terbilang cukup sepi dan harus tetap waspada. FYI : Jalur Paserpan, Pasuruhan ini lebih menanjak dan berliku, terkenal rawan begal di malam hari, demi keselamatan jangan lewat jalur ini jika tak ada rombongan ditambah malam hari. Jika rombongan yang lumayan besar, lanjut laaaah.
Jalur Bromo via Paserpan, Pasuruhan by Google Maps
Jalur Bromo Via Probolinggo by Google Maps
Oke sampailah di sebuah penginaman Moronyoto (Beralamatkan Jl. Raya Bromo, 1 jam an sebelum desa Sukapura yaitu kawasan TNBTS). Ditengah diskusi istirahat atau lanjut perjalanan, kami bertemu sepasang backpaker yang asik banget (Mas Heru dan Mbah Heru) yang akhirnya bersama kami memutuskan menuju desa Sukapura dan bermalam di sebuah Homestay 5 menit sebelum pintu masuk kawasan TNBTS via Probolinggo. Saat itu pukul 22:30 (perjalanan lana karena banyak berhenti untuk tanbal ban, milih jalur, diskusi lokasi, dan lain sebagainya, jadi santaiiii aja bro).

Hari berganti saat itu pukul 04:45 Selasa 20 Desember 2016. Karena kecapekan kami merelakan Sunrise cantiknya Bromo (alias kesiangan). Kami start lagi menuju kawasan bromo pukul 05:30. Mulai dari sini eksplore Bromo kami dimulai. Habiskan wiiiis.

Kawah Bromo

Kawah Bromo mempunyai garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat), sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Tersedia tangga dari beton untuk akses ke kawah. Dari puncak tampak kawah Bromo yang menganga lebar dengan kepulan asap yang keluar dari dasarnya yang menandakan gunung ini masih aktif. Jangan lupa putar badan ada pemandangan ciamik di belakang.

Pura Luhur Poten Bromo

Ini nih istimewa dan uniknya Bromo, selain mempersembahkan keindahan alamnya, bromo juga mempersembahkan keindahan dan keluhuran budaya masyarakat sekitarnya yaitu Suku Tengger. Masyarakat Tengger tidak bisa di pisahkan dari Gunung Bromo dan Yadnya Kasada. Bagi masyarakat Suku Tengger Gunung Bromo dan Pura Luhur Poten menjadi tempat yang suci dan penting baik dalam keseharian maupun dalam perayaan keagamaan sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada.

Lautan Pasir Bromo

Lautan pasir Bromo luasnya mencapai 5,920 hektar (sekitar 10 km persegi) membentang mengelilingi Gunung Bromo, Gunung Batok , Gunung Widodaren, Gunung Kursi dan Gunung Watangan, berada pada ketinggian 2100 m dpl. Di lautan pasir ini ditemukan 7 pusat letusan dalam dua jalur yang saling silang menyilang dari timur-barat dan timur laut – barat daya. Struktur pasirnya sangat halus, berwarna hitam, tidak banyak vegetasi yang tumbuh di Lautan Pasir, kebanyakan berupa rerumputan dan perdu.

Gunung Bathok

Yang sering banget jadi background foto tapi juga sering terlupakan. Gunung Bathok. Pertama kali saya kesini Gunung inilah yang saya kira bromo, ternyata salah total. Dengan ketinggian 2440 meter, lebih tinggi sedikit dari Bromo, ternyata Gunung ini bisa didaki lho. Nah hanya saja menurut info jalurnya cukup ekstrim dan kudu ekstra hati-hati. Jarak tempuh sekitar 1 jam tapi belum jelas juga saya jalurnya dimulai darimana, karena belum pernah summit. Ada baiknya ditanyakan dengan warga sekitar juga usahakan dengan guide (mengjak warga sekitar) karena melihat tekstur gunungnya, jalurnya terlihat ekstrim.

Savana Bromo

Hamparan padang rumput yang hijau dan bukit yang berjajar jajar indah sekali di tumbuhi rerumputan yang menyelimuti perbukitan itu sangat menyejukan mata. Penampakan Bukit Teletubbies di sertai padang savana dibawahnya membuat lokasi ini sering jadi tujuan penting bagi para pengunjung untuk berfoto. Disini spot paling ciamik buat foto-foto. Jika menuju Bromo melalui jalur Malang, spot pertama yaang akan disuguhkan ya ini, Savana Brom dimana terdapat Bukit Teletubies yang sebenarnya asik juga buat menikmati Sunrise, menurut beberapa orang sih.

Terakhir kami balik pukul 11;00, istirahat di homestay dan checkout pukul 12:30 dan langsung menuju Surabaya melalui jalur yang searah dengan Madakaripura. Tetapi tidak mampir Madakaripura dengan beberapa pertimbangan. Mungkin next time. Aamiin.

Sekedar info buat yang masih binggung kayak saya pas dateng kedua kalinya disini, Saran sedikit, kalo mau lihat Sunrise di Bromo ada baiknya lewat Paserpan, Pasuruhan karena langsung bisa menuju Penanjakan 1, spot terbaik Sunrise di Bromo. Kalau lewat Probolinggo jalurnya harus turun dulu ke lautan pasir, baru naik lagi ke penanjakan dengan rute yang saya bilang cukup ekstrim lah naiknya. Tapi kelebihan lewat jalur probolinggo ini gak terlalu nanjak dan aman di malam hari (pokok jangan terlalu malam), cocok banget yang niatnya pingin eksplore bromo doang. Tapi menurut saya ada juga sport Sunrise di sini cuma gak terlalu tinggi aja. Sedangkan untuk daerah Paserpan, Pasuruhan jalannya lebih nanjak dan berliku juga rawan begal, tetapi bisa langsung ke Penanjakan. Disini juga ada kok penginapannya. Jadi bisa berangkat pagi atau siang trus nginep dulu disini, paginya baru cus lihat Sunrise. So tinggal pilih aja sesuai waktu, rombongan, dan tujuan ke Bromonya.

Satu lagi jalur yang lewat Malang yang belum pernah saya coba, Mungkin Next time lah. Aamiin.
Jalur Bromo Via Lawang, Malang By Google Maps

Team Perjalanan kali ini :

Kurnia Agung Pamungkas
Prasetya Jaka Anggara
Thanks To : Mas Heru yang bekerja di Taman Nasional Baluran dan Istri yang udah jadi teman perjalanan yang asik banget. Semoga next time bisa mengujungi Baluran dan ketemu lagi, ngobrol lagi, sharing ilmu lagi.

Popular

Kurnia Agung Pamungkas a.k.a kagung13, Seorang blogger yang percaya bahwa menulis adalah cara terbaik mengabadikan moment dan pemikiran berharga dalam hidup.

Total Pageviews