Enter your keyword

kagung13.blogspot.com | kagung13@gmail.com

Sajak Mandalawangi

By On December 22, 2015
Mandalawangi - Pangrango
oleh Soe Hok Gie

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok Gie

Salah satu puisi tersyahdu yang pernah terdengar di telinga. Saat itu ketika hati sedang tak tentu arah. Melampiaskannya dengan mencari siapa sebenarnya diri. Kesana kemari tak terbendung lagi. Sendiri ataupun bersama sama saja rasanya, hambar. Sesekali terasa manis tapi terlalu banyak hambar yang terasa. Buka pahit, tapi hambar. Iya hambar, bukan pahit.

Sekali, dua kali terdengar berulang. Hingga saat ulangan yang entah keberapa kalinya, kuputuskan untuk menuliskan Gede-Pangrango ke dalam jurnal biruku. Tujuan selanjutnya seorang amatir yang hanya ingin mencari apa yang hilang. Benar apa kata orang, kata orang yang tak sengaja terbaca dalam kutipannya, "pain make people change". Pilihanmu, berubah jadi baik atau sebaliknya. :)

Menikmati Kabut Pagi Dengan Susu Hangat dan Ransum

By On December 22, 2015
Kabut pagi itu sangat pekatnya hingga jarak pandang sangatlah terbatas. Hawa dingin dan air belaian kabut membasahi jaket yang tak kalah tebalnya dengan kabut. Saat itu pukul 07:00 WIB tapi kabut menutupnya serasa jam 5 pagi. Siapa yang peduli akan jam saat berada di sana. Yang ada hanyalah menikmati apa yang sedang kita rasakan. Hawa dingin adalah teman yang tepat saat ini. Kabut pagi menjadi pelukan yang nyaman bagi siapun saat itu. Sisa hujan semalam yang baru berhenti saat tengah malam mulai datang. Menyisakan kubangan air dan beberapa air tersisa di sekitas atap tempat berteduh kami.

Apalagi yang lebih enak daripada minuman hangat dan makanan sederhana. Yah, yg sederhana pun bisa jadi barang mewah di atas sana. Bukan kopi hangat yang kuminum saat itu, aku lebih suka susu hangat untuk menikmati pagi. Kopi terlalu mainstream menurutku. Yah, karena tiap orang punya penilaian berbeda dan persepsi tersendiri tentang hal yang mereka suka. Dengan wadah potongan botol aqua besar, dengan takaran pas, kuaduk coklat susu itu dan kunikmati bersama ransum pemberian tetangga sebelah. Bersama mereka yang menemani pagi itu. Semua terasa syahdu, nyaman dan tentram dibawah kabut dan dinginnya pagi.

Obrolan-obrolan yang terucap terasa cepat sekali berlalu, kupikir baru saja beberapa pertanyaan kukawab, dan beberapa jawaban juga kukawab, tapi tak terasa, 2 jam berjalan begitu cepat. Saat matahari mulai menembus kabut secara perlahan. Kesalahan besar baru saja kulakukan, yah, kesalahan karena menikmati pagi sebegitu indah dan nyamannya. Yang salah adalah kerinduan yang akan terasa setelah ini. Tak ada obat lain selain mengulanginya, di tempat yang sama, atau di ketinggian yang berbeda. Bismillah dan semoga. Aamiin.

Catatan 2565, 27 November 2015, kagung13


Review Film, Into The Wild

By On December 20, 2015
Mengobati kerinduan akan adventuring, saya coba nonton beberapa film bergenre adventure dan inilah yang saya temui kala menonton film Into The Wild. Kisah petualangan yang sangat mengispirasi bagi sebagian orang, meninggalkan kepalsuan dunia dan hisup menyendiri berkumpul dengan alam. Entahlah, kata-kata berkumpul dengan alam mungkin dimaknai berbeda bagi sebagian orang.
Film ini merupakan salah satu film biografi terbaik yang mengangkat kisah nyata kehidupan Christopher McCandless yang penuh drama, menjelma menjadi Alexander si Petualang Super -- menggantungkan hidup pada alam sepenuhnya, mengabaikan risiko apa pun, dan mencoba bertahan di tengah kebekuan dan kesunyian Alaska, The Last Frontier, dataran kejam yang tak kenal belas kasihan.

Cerita film ini dimulai saat Chris tiba di daerah terpencil sisi utara Taman Nasional Denali di Alaska pada Mei 1992. Dia menemukan sebuah bus ajaib yang terabaikan pemilikinya, dan menjadikannya sebagai tempat tinggal di alam liar itu. Pada awalnya, Chris sangat puas dengan kesendiriannya di alam liar, dengan keindahan alam jauh dari peradaban manusia yang sangat dibencinya. Dia berburu hewan, membaca buku, dan menulis buku harian sepanjang waktu.

Dua tahun sebelumnya pada Mei 1990, McCandless lulus dengan pujian yang tinggi dari Universitas Emory di Atlanta, Georgia. Tak lama setelah itu, McCandless menolak kehidupan konvensionalnya dengan menghancurkan semua kartu kredit dan dokumen identitasnya. Dia menyumbangkan hampir semua seluruh tabungan kuliahnya sebanyak $ 24,000 untuk Oxfam. Namun, McCandless tidak memberitahu orangtuanya Walt (William Hurt) dan Billie McCandless (Marcia Gay Harden) atau adiknya Carine (Jena Malone) tentang apa yang dia lakukan atau kemana ia akan pergi, dan menolak untuk tetap berhubungan dengan mereka setelah kepergiannya, meninggalkan orang tau dan adiknya yang semakin cemas karena kehilangan Chris yang dibanggakan, hingga akhirnya putus asa dalam pencarian tanpa hasil.

Tetapi kisah petualangan yang begitu berani ini harus berakhir tragis dengan sebuah drama, dimana seorang Alex dalam cerita ini yaitu Cristopher sekarat di akhir hidupnya akibat tumbuhan beracun yang dimakannya kala kelaparan benar-benar menghampirinya, saat tak ada satu hewanpun lagi yang dapat diburu saat itu. Di akhir kisahnya, diceritakan dalam film ini, terdapat beberapa nilai dan pesan moral yang dapat diambil. Kalian musti lihat sendiri dan temukan sendiri hal tersebut.

Satu kalimat yang mungkin sangat tegambar di otak yaitu, "Happiness Only Real When Shared".
Silahkan, artikan sendiri. :)
Foto Asli Christoper McCandless (Alexander Supertramp) yang di temukan di dalem kameranya

Puncak Mt. Prau - 2.565 Mdpl

By On December 11, 2015
Buat yang penasaran bagaimana cerita ini tiba-tiba terbawa sampai puncak, kaliah harus baca terlebih dahulu sekuelnya di :

Pendakian Mt. Prau - 2.565 Mdpl
Mt. Prau - 2.565 Mdpl

Saat itu, 28 November 2015 kala alarm jam berbunyi beep menandakan pergantian hari yaitu pukul 00:00:01 waktu Indonesia bagian Prau (:D). Yah, saat itu 00:00 terbangun dari dalam tenda karena suara alarm jam tangan sebelah saya. Suara gaduh para pendaki yang masih belum tidur menambah antusias untuk duduk dan menikmati malam dari dalam tenda. Tak keluar ataupun membuka tenda saat itu karena dinginya malam puncak Prau yang terasa menyengat untuk saya kala itu.

Tak terasa badanpun ambruk lagi menikmati hangatnya sleeping bed baru saya dan tertidurlah kembali hingga alarm handphone rutin berdering kala itu pukul 04:00. Suara ramai para pendaki mulai terdengar, Kukira Golden Sunrise terlihat sudah kala itu tapi ternyata setelah membuka tenda, kabut tebal masih menyelimuti dengan beberapa cahaya senten para pendaki yang sudah jalan-jalan. Kami menghangatkan diri dan merefresh badan sejenak setelah tidur dengan kedinginan ynag menyengat menurut saya saat itu.
Kala waktu menunjukan 05:00 keluarlah kami dengan menikmati pemandangan kabut dan begitu banyaknya tenda di sekitar kami. Suara riuh para pendaki yang sedang menikmati pagi dan pemandangan sepi tenda sebelah yang mungkin masih melelapkan diri karena kabut masih tebal. Seharusnya matahari telah bersinar terang kala itu, Tapi sungguh sayang tak didapat sama sekali apa yang dikatakan orang tentang kemegahan Merapi Merbabu, Sumbing Sindoro dari puncak Prau ini. Alhasil kami berinisiatif berjalan-jalan menyusuri camping groung yang lumayan luas dengan misi lain yaitu menemukan tean kita dari Jakarta yang mungkin sudah datang malam tadi. Hampir sebagian tenda kami lalui sampai batas pintu masuk puncak atau habisnya tenda. Sambil menikmati dingin dan belaian kabut dan angin melalui wajah kami, berjalan menjadi sebegitu syahdunya.

Setelah beberapa putaran akhirnya yang dicaripun terlihat karena jaket yang sama yang dipakai waktu pertama kali bertemu dan Alhamdulillah, satu lagi bonus yaitu "kanca nggunung". Sejenak ngobrol dan berkenalan dengan team dari mereka. Menghabiskan beberapa saat jala-jalan bersama dan bercerita di depan tenda dengan matras kala itu kami bertiga sungguh sangatlah akrab.

Waktu berlalu dan tibalah kami kembali ke habitat masing-masing (kelompok masing-masing) maksudnya. Dengan beberapa jam tersisa sebelum pukul 10:00 dengan kabut masih menutup puncak saat itu. Acara bebas masing-masing dari kami.
Jam 09:00 saatnya beres-beres merapikan tenda dan say goodbye untuk Prau, akan datang kembali jika Allah SWT menghendaki. Aamiin. Saat itu pukul 10:00 kabut mulai menghilang dan sesekali cahaya matahari menembus puncak kala itu. Perjalanan pulang kami mulai ber-6 dan tak lupa mengucapkan pamit terhadap teman Jakarta kami (Sukses selalu mbak Ikha, sampai bertemu lagi).

Penjalanan pulang kami lalui dengan track Dieng. Maksudnya kami mengambil jalur berbeda yang nantinya akan turun di Pos Perijinan Basecamp Dieng. Perjalanan melalui jalan landai dan sedikit menanjak, turunan yang juga menantang, dan pemandangan yang lumayan bagus. 3 jam waktu tempuh kami turun (ya memang jalur Dieng ini agal lebih jauh daripada jalur Patak Banteng).

Pukul 13:00 kami sampai di POS Perijinan Dieng, istirahat sejenak kami dan langsung kembali menuju Wonosobo karena estimasi waktu bus kami agar tak kemalaman sampai Jogjkarta dan tidak telat bus (bisa-bisa tidur terminal lagi ini). Perjalanan pulang Dieng - Wonosobo (1,5 jam). Wonosobo - Magelang (2,5 jam karena posisi hujan dan jalanan ramai.). Magelang - Jogja (1,5 ja, karena lancar). Sampai di Jogja kami Alhamdulillah selamat sekitar pukul 20:00. Saat terminal Giwangan kami berpisah dengan saya kembali ke Gunungkidul sedang Zakky kembali ke Surabaya.
Perjalanan yang cukup memberi pelajaran berharga, Fist time saya Backpackeran sejauh Surabaya - Wonosobo, dengan perencanaan yang tersusun, perjalanan yang lancar, dan kondisi yang sangat bersahabat dengan beberapa halang-rintangnya. Terima Kasih Tuhan, Allah SWT, telah kau izinkan kami kembali mencintai alam indah ini. Jangan lupa bersyukur dan terus maju, jangan takut dengan omongan orang, berencana cukup, dan segeralah berangkat.

Tak ada kata seindah Alhamdulillah setelah semuanya terlalui dengan sangat berkesan dan bermanfaat (semoga). Oke, sedikit ungkapan hati buat senior-senior pendaki dan pendaki amatir lain seperti saya, terima kasih telah mengajarkan saya yang amatir ini untuk membawa sampah kalian turun, tak sembarangan memetik tumbuhan di gunung, menyalakan api di tempat seharusnya, dan tak membiarkan kertas-kertas berserakan di camping ground. Sebuah harapan sederhana saya yaitu suatu saat nanti saya akan menceritakan pengalaman ini kepada anak cucu saya, dan berharap mereka masih bisa melihat indahnya bukti nyata dari cerita saya ini. Aamiin. Salam Lestari.

"Suatu pagi di suatu tempat, berjalan bersama menembus kabut kala itu. Aku tak rindu matahari paginya nan indah yang banyak dibicarakan orang. Aku hanya rindu dinginnya malam dan kabut pagi bersama dia dan mereka orang-orang yang tepat." (_anonim)

Pendakian Mt. Prau - 2.565 Mdpl

By On December 10, 2015
Previous Story Of Prau. Kalo yang binggung dengan posting "Pendakian Mt. Prau 2.565 Mdpl ini, kalian wajib baca terlebih dahulu postingan yang pertama ini,
"Mt. Prau - 2.565 Mdpl"

Bismillahirokhmanirrokhim ...

Pendakian dimulai saat itu pukul 10:20 setelah selesai di Pos Perijinan atau BaseCamp, perjalanan dimulai. Track Pertama adalah menyusuri anak tangga menuju daerah perkebunan warga, belum terasa suasana hutan tetapi suasana alam pedesaan sangat kental dan nyaman.
Lolos dari jalur anak tangga, jalur jalan raya berbatu sedikit menanjak menjadi trek yang harus ditaklukan berikutnya, sampai di Tikungan POS I - Sikut Dewo.
Next Penjalanan naik lagi dengan trek meninggalkan areal perkebunan warga menuju hutan pius dan terlihatlah sebuah plakat hijau bertuliskan Canggul walangan. Ini dia POS II - Canggul Walangan
Naik lagi sepanjang perjalanan menikmati indahnya pemandangan dari balik hutan, Telaga Warna sangat menawan terlihat dari sini, Susunan kota Dieng pun tak kalah Ciamiknya. Beberapa waktu berjalan bertemulah kami berdua dengan rombongan 4 orang tadi yang saya suruh duluan. Alhamdulillah, coklat hangat pas sekali dengan suasana sejuknya hutan pinus kaki Gunung Prau ini. Cukup beristirahat, kami bersama melanjutkan perjalanan, dengan ikut beres-beres terlebih dahulu tentunya.Dan seperti di awal, kami terlalu santai dan sangat menikmati pemandangan dan perjalanan sampai-sampai tertinggal beberapa menit di belakang.
Saking menikmati perjalanannya, Kami sampai naik turun membuat rekaman balapan mendaki dengan target waktu dan lintasan yang lumayan nanjak dan keren. Heheheh. Iseng mumpung ada di kota orang, dan jarang-jarang kan. Saking asiknya saat rombongan Jakarta berhenti kamipun berhenti dan ternyata kita sampai di POS III - Cacingan. Istirahat sejenak dan melihat ke bawah pemandangan yang indah kota dieng dan trek yang kita naiki tadi. 
Melihat ke atas dan ternyata langit mulai gelap pertanda hujan akan turun. Udara mulai dingi dan kabut mulai turun dan semakin pekat. Dengna ini, pertanda kami harus melanjutkan perjalanan dan segera sampai di Puncak jika tak ingin kehujanan di jalan. OK, next trek yaitu tanjakan maut (Tenang, maksudnya yang paling nanjak dari yang lain), tapi tetap mudah dilalui kok seperti pendaki pemula seperti kami.

Angin dan kabut semakin menggila. Langit mulai gelap kala itu, dan setelah tanjakan terakhir dan menemui tikungan, Bonus terlihat di depan (Bonus = Jalan landai, sebutan para pendaki yang aku baru tahu beberapa waktu lalu. Maklum. :D). Di sini ada beberapa tenda yang didirikan. Tempat yang aman karena sedikit tertutup pohon dan tak terlalu di atas sehingga terhindar dari angin gunung yang lumayan kencang berhembus kala itu.

Team Jakarta menimbang dan memilih mendirikan tenda di atas dengan alasan view yang lebih baus. Kamipun mengiyakan ajakan mereka. Saat iru pukul 13:30 kamu menginjakan kaki di Puncak Mt. Prau. Sekedar info, Puncak Mt. Prau tak seperti puncak Gunung besar kebanyakan yang mengerucut dan cenderung sempit. Puncak disini sangat luas dan cukup untuk membangun satu desa mungkin. Hehehe. Mendirikan tenda bersama, kami diburu hujan yang mulai rintik-rintik turun, dengan angin yang sangat kencang. Dan alhamdulillah sesaat sebelum hujan dan setelah beres-beres diri, hujan pun turun deras dan tidur pun jadi kegiatan selanjutnya kami berdua. Dengan iringan musik tenda sebelah, tidurpun terasa nyenyak di bawah hujan Mt. Prau kala itu.
Saat hujan terasa reda, badan sanat segar kala itu dan benar saja, sleeping bed bagian luat basah-basah, dan ketika bangun terlihat air di sudut dalam tenda. Seisi tenda basah kuyup, termasuk tas, sarung, sajadah, dsb. Terpaksalah bersih-bersih dan peras-memeras kain demi kelancaran kegiatan selanjutnya (baca : tidur). Keluat tenda kala itu pukul 17:00 kabut sangat tebal dan hawa dingi begitu menusuk. Lapangan yang becek dan berair kususuri saat itu mencari teman Jakarta kami yang sebelumya telah janjian bertemu di Puncak. Sayang sekali nihil hasilnya sore itu. Saya berfikir mereka terjebak hujan dan sangat berhat-hati sehingga memakan waktu perjalana. Saya berfikir esok hari pastilah bertemu. :)

Acara selanjutnya kami makan dengan masak-memasak dibawah hujan lagi kala itu, di dalam tenda di teras, mie, jahe, dan susu menjadi menu makan kami dan pukul 19:30, kamu berangkat tidur, karena kondisi semakin dingin, dan berkabut saat itu sehingga tak ada pemandangan lain selain tenda sekitar dan suara pendaki-pendaki lain yang baru tiba.

Malam 28 November 2015 terlewatkan dengan tidur di suatu ketinggian, menunggu teman, menunggu hujan, menunggu kabut, dan menunggu matahari pagi keesokan harinya.

Selamat Tidur Kawan ...
Matahari 28 November 2015, Golden Sunrise, Sumbing Sindoro, Merapi Merbabu apakah akan menampakan dirinya esok hari? Read it on "Puncak Mt. Prau - 2.656 Mdpl"

"Karena alam punya aturannya sendiri. Apapun yang diberikannya, yakinlah Allah SWT memberikan yang terbaik untuk kita. Tak memberi matahari misalnya, bisa jadi menjaga kita dari sikap sombong dan congkak." (_anonim)

Mt. Prau - 2.565 Mdpl

By On December 09, 2015
"Saya rindu. Bukan dengan puncaknya. Tetapi dengan suasananya. Dengan orang-orangnya saat itu. Dengan keyakinan antara ganjil genap. Tentang menaklukan ego juga diri sendiri. Dan tentang nikmat Allah SWT dan rasa syukur terhadapNya. Ya, saya rindu, sangant rindu."

Kangen banget sama kegiatan tracking setelah terakhir kali, 2 Oktober 2015 yang lalu Mt. Penanggungan - 1653 Mdpl Alhamdulillah berhasil mendapat cerita dan pengalaman baru di sana. Balik lagi dengan postingan baru dan tentunya dengan cerita baru dari kagung13. Kali ini Alhamdulillah dapet kesempatan membuat cerita di salah satu ketinggian di Jawa Tengah. Di Wonosobo Tepatnya, Dataran tinggi Dieng, Pastinya sudah pada familiar kan? Oke, Bukan Kawah Si Kidang, Telaga Warna, Atau Puncak Si Kunir yang yang akan diceritakan di sini. Tapi Si 2.656 Mdpl yaitu Mt. Prau.

Berawal dari ajakan seorang temen (Ikha) yang Agustus lalu ketemu di Mt. Lawu, plan diatur untuk menghabiskan akhir bulan menuju ketinggian. Yah, saat itu 27 November 2015, perjalanan dimulai menuju tujuan yang dituju. Semula plan berangkat sendiri, dan semuanya berubah ketika salah seorang teman (Zakky) meminta ikut. Alhamdulillah, dapat teman. Dan benar saja, entahlah apa jadi saya ketika kemarin jadi berangkat sendiri, bertahan sih insyaAllah bisa, tetapi repotnya itu lho, pasti bakalan panik ke sana kemari. Hehehehe. Ok, cukup basa basinya, kita mulai perjalanan kita dari kota Pahlawan Surabaya.

Kamis, 26 November 2015, Bus Jurusan Surabaya - Jogja mulai melaju dimana saat itu jam menunjukan pukul 22:00. Perjalanan dihabiskan untuk istirahat tidur dan sesekali terbangun untuk melihat suasana sekitar dari dalam bus. 8 jam berlalu, 05:30 kami sampai di Terminal Giwangan Jogjakarta. Rencana kami putus dengan mampir pulang ke Gunungkidul terlebih dulu dan teman sayapun tak keberatan dengan pertimbangan hari Jumat. Prepare peralatan dan juga logistik dengan pembagian tas carier 2 buah full, ditambah tas slempang kecil untuk wadah kebutuhan yang mobil.

Selapas Jumatan, 27 November 2015 pukul 13:15 perjalanan dimulai dengan menaiki bus Gunungkidul - Jogja yang memakan waktu 2 jam. Sampai kembali di Terminal Giwangan kemudian lanjut ambil Bus Jogja - Magelang (Bis tujuan Semarang) pukul 15:30. Perjalanan kira-kira 2 jam dari Jogja - Magelang, Langsung ambil Bus Magelang - Wonosobo pukul 17:45. Keadaan mulai tenang saat bis kami dapat. Sekedar Informasi Bus untuk jurusan Gunungkidul - Jogja maksimal jam 17:00, sedangkan bus Jogja - Magelang (jalur Semarang) agak simpang siur karena jalur Semarang se tetapi saya alokasikan jangan lebih dari jam 16:00, Karena Bus ke Wonosobo info dari kertet maksimal jam 19:00.

Sampailah di Wonosobo kami pukul 20:10. Dan sesuai perkiraan, tak ada lagi bus jurusan Dieng yang akan membawa kita ke BaseCamp Pendakian Gunung Prau (Patak Banteng). Terpaksa sebagai Backpacker Amatir, kami berdua memutar otak dan Alhamdulillah dilancarkan, seorang Ibu penjual makanan baik hati menunjukan Mushola yang lumayan besar untuk tidur dan dia bilang, "tak apa-apa tidur di mushola saja mas, besok pagi jam 5 baru ada bus ke Dieng. Alhamdulillah istirahatlah kami hingga fajar tiba keesokan harinya.

Sekedar Informasi kami menuju Dieng melalui jalur Surabaya - Jogja (Mampir Gunungkidul), Jogja - Magelang, Magelang - Wonosobo, Wonosobo - Dieng. Jika dari Surabaya sebenarnya ada bus langsung ke Wonosobo dengan biaya kurang lebih Rp 140.000 Sedangkan jika melalui oper bus biaya sekitar Rp 90.000 sampai Wonosobo. Bus dari Wonosobo - Dieng Rp 20.000 mulai ada pukul 05:00 hingga 14:00.Nama Terminal sepanjang perjalanan : Surabaya (Bungurasih), Jogja (Giwangan), Magelang (Tidar), Wonosobo (Mendolo).

Alarm Subuh membangunkan kami ketika dingin sangat terasa di Wonosobo pagi itu. Setelah bangun, mandi, dan Sholat, kami minum teh hangat di tempat Ibu tadi dan juga sebagai salam sekaligus ucapan terima kasih dan prepare sambil menunggu bus penuh penumpang dan siap berangkat pukul 05:30.
Saat di bus pemandangan Ciamik banget, Sebagian penumpang pada tidur dan saya lebih asyik menikmati pemandangan super keren yang sedang tersaji. Lumayan, kita sudah tidur nyenyak saat di Mushola kemarin, jadi fresh super fresh pagi ini. Sumbing Sindoro yang bediri gagah di depan mata bak magnet yang menarik hati untuk mengunjunginya, Puncak Si Kunir yang melambai-lambai dengan senyuman hangat. Ah, indahnya alam ini Tuhan. Perjalanan memakan waktu 2 jam dan 07:30 sampailah kami di Pos Pendakian Patak Banteng, Sebagian penumpang turun dan sebagaian melanjutkan perjalanan ke Dieng untuk pendakian via Pos Dieng atau trip ke kawasan Dieng.
Sarapan di sini, bertemu dan ngobrol dengan banyak pendaki lain yang sudah malang melintang di dunia pendakian. Arjuno, Welirang, Semeru pernah di dakinya, dan yang lain satu team 4 orang dari Jakarta, Gunung di Jawa Barat sudah jadi tujuan perjalanan tiap liburannya. Kami yang berdua ini, terutama saya yang sangat amatir banyak belajar dari mereka. Sarapan dibarengi dengan menunggu teman dari Jakarta yang sudah dibahas di ata, dan sayang sekali saat itu pukul 09:30 mereka baru otw Dieng dari Wonosobo. Dengan sangat terpaksa kami melakukan pendakian terlebih dahulu dengan ajakan temen-temen dari Jakarta ini yang sampai akhir pendakian kami tak tahu siapa nama jelas mereka. Yang kami tahu 2 cowok dan 2 cewek. Sebut saja mereka Abang, Adek, Kembut, dan Chandra (Mohon maaf mas, mbak nama asal demi kejelasan identitas. Hehehehe.)
Perjalanan dimulai dengan melakukan Perijinan di Pos Perijinan Patak Banteng. Team Abang saya suruh duluan karena kami masih sibuk dengan perijinan dan preape yang lainnya (padahan lihat-lihat souverin, dasar). Pukul 10:20 tertulislah nama kami di buku perijian Base Camp Pendakian Patak Banteng, dan kami siap melakukan pendakian setelah membayar registrasi sebesar Rp 20.000 dan penjelasan tata tertib pendakian dan prosedur pelaporan saat sudah turun.
Bismillahirrokhmanirrokhim....

Penasaran dengan perjalanan kami, Let's See on
"Pendakian Mt. Prau - 2.565 Mdpl".


"Berada di atas seharusnya tidaklah membuatmu sombong, berada di atas hanya akan membuatmu sedikit memiliki kosa kata yang lebih untuk dituliskan maupun diucapkan, ya sedikit, hanya sedikit, maka janganlah sombong." (_anonim)

Mt. Lawu - 3.265 Mdpl

By On December 09, 2015
Hai guys, pa kabar hari ini? Gimana euforia 117 Agustus disana? Keren juga kan? :). Ketemu lagi sama saya, jalan-jalan lagi, eksplore sana sini lagi, kenalan sama alam indah ciptaan Tuhan ini. Yip 17 Agustus moment peringatan kemerdekanan negara tercinta kita NKRI. Indonesia ini surga men. Gak percaya? LIhat nih!
Gimana? Keren kan? Ini baru satu bro, masih ada ratusan spot keren di alam kita ini, Indonesia. Oke, langsung saja, saya mau share nih pengalaman pertama saya muncak. Cie, muncak men! Saya rasa saya ini udah keracunan film 5 cm sejak pertama lihat 2 tahun yang lalu. Tiap lihat foto temen-temen pada muncak rasanya kaki ini harus melangkah gak karuan. Nah ya selama ini alhasil ngeksplor 0 mdpl atau bukit-bukit, air terjun dan spot keren lainnya (baca artikel jalan-jalan lain saya). Nah alhamdulillah bisa juga muncak akhirnya hari itu, saya, kami bertujuh berdiri di atas bumi tapi dekat sekali dengan langit, dekat dengan Sang Pencipta. :)

Prepare dimula dari fixsasi personil. Yang semula 6 orang genap, karena saya datang, jadilah 7. Hahahaha, saya ini emang jadi sorotan kayaknya beberapa waktu ini, mendadak terkenal bagi khalayak nih. Haha. Semua sebagian ragu saat personil mengerucut menjadi 7 orang. Semula saya juga gak tahu kenapa sih kalau bertujuh? Jawabanya mitos. Pernah denger kalau jangan mendaki dengan formasi ganjil. Katanya bakalan ada yang menggenapkan kelompok kita gitu. Apalagi kalau bukan makhluk astral. Awalnya sih sedikit terhasut, apalagi saya yang baru pertama muncak. Tapi menuju H-3, kami yakin bahwa tak apalah bertujuh naik. (Kalau saya sih, 7 itu bagus lho ya, Allah aja suka bilangan ganjil, surga aja ada 7, ganjil kan? Ini alam yang mau kita datengin kan punyanya Allah, jadi yakin aja).

Next menuju hari H dengan formasi bertuju kami berangkat. Rendi, Wulan, Arif, Haris, A'an, Rakom, dan saya, pemula super tangguh, Agung. Hahahaha.Kami memulai start dari Surabaya, terminal bus Bungurasih. Kami berangkat jam 01:00 dengan bus Sumber Selamat. (Patas bro, yang lain pada gak bisa tidur, Si Rakom katanya senam jantung. Haha). Kita turun di Terminal Maospati, saat ini pukul 03:23 dan langsung menuju pintu masuk pendakian Cemoro Sewu dengan biaya Rp 35.000 sampai disana dengan selamat pukul 04:35. Kami sholat subuh terlebih dahulu kemudian sarapan, prepare semua yang dibutuhin dan let's go. Berdoa, Bismillah dan kamu memulainya pukul 05:30.
Kenalan dulu guys, mulai dari kanan bawah ya, Arif, Cak A'an, Rendy, Wulan. Mulai dari kanan atas, Imam, Agung, Cah Haris. Ini perjalana dari BaseCamp ke POS I.
Nah, dengan berjuangan dan adaptasi, akhirnya sampai juga di POS I (Wesen Wesen : 2163 mdpl) jam 06:54. Kita lanjut perjalanan menuju POS II. Nah, perjalanan dari POS I ke POS II ini adalah track yang paling jauh. Dan inget men, jalur Cemoro Sewu ini mulai start udah ditantang buat nanjak lho ya, jadi jangan kaget. Bener-bener siapin fisik yang mantap.
Di sini kita ketemu sama pendaki lain, mereka ber-empat, Mas Arif (Depok), Ridwan, Ikha, dan Lutfi. Akhirnya kita naik sama-sama. Walaupun kadang pisah di beberapa POS, tapi nanti di Puncak tetep foto bareng. Hehehe. Next, sampe di watu jago, 2659 mdpl. Liat gambar langsung men!   

Next, jalan lagi sampil lihat view keren, nikmatin aja bro, asik kok. Dan akhirnya sampai di POS II (Watu Gedheg : 2579 mdpl) Sampai Pos ini ada warung yang bisa dibuat jajan kalau udah capek bro. 

Next track to the POS III. Di sini jalan mulai full nanjak dan ekstrim. Kalo saya sih nyebutnya enggak ekstrim, tapi asik, keren, dan menantang banget. Oke, kita lanjut jalan men, ke POS III. 
     
Nah, ini track ke POS III dan beberapa view yang bisa tertangkap kamera. Boro-boro mau nyari view keren bro. Tas carier di pundak itu aja plus track yang bisa dibilang nantang banget (ngajak gelut :)) udah bikin ngos-ngosan. Hehehe, tapi tetep, demi dokumentasi. Dan ini but hadiah kalian yang kurang percaya betapa asyiknya muncak, Buktiin sendiri men!
Akhirnya sampai di POS III (Watu Gede : 2800 mdpl) jan 11.11. Istirahat full men disini. Semua pada tidur. Nah, karena pas 17 Agustus kami mulai muncak, di sana ruame banget orang men. Yang turun apalagi seabrek. Jadi kami berbagi track sempit sama pendaki yang turun.

Beneran rame kan. Nah, ini selanjutnya kita jalan ke POS IV. Ini track keren abis brooo, kalo kalian udah nemiun pegangan jalan dari besi, berarti udah deket ke POS IV. Deket? Yah, sesuai penilaian masing-masing sih. Hahaha. Next, see the picture guys! 
  
Wuis, disini kumelnya udah gak karuan men. Lihat aja. Eits tapi cuma 2 orang. Yang 5 kemana? Hehe, yang 5 di belakang ini masih pada ngaso. Karena saya sama Arif bawa carier besar, capek kalo istirahat dikitdikit, soalnya buat berdiri itu butuh tenaga ekstra. Jadi kami berdua mutusin duluan berdua dan membawa tenda dan logistik terlebih dahulu ke atas.

Sampailah di POS IV (Watu Kapur) jam 13.51. Nah, nungguin ber 5 di bawah kami tidur, cukup lama sekitar 30 menitan. Nah udah cukup istirahat kita naik lagi sedikit, dan nge-camp di area antara POS IV dan POS V.

17 Agustus 2015. Saya Agung, bersama teman-teman Rakom dan Arif mengibarkan Sang Saka Merah Putih dari ketinggian 3000 mdpl lebih sore itu. Menuju senja mengingatkan diri bahwa negeri ini indah, Berkah dan Rahmat Allah SWT lah semua keindahan dan anugrah ini. Semoga kami dapat menjaganya, dan semoga kami dapat mengibarkan Sang Saka ini sekaligus mensyukuri nikmatNya di ketinggian yang lain. Aamiin.

Dan gak kalah keren, momen sunrise. Beruntung bisa lihat sebentar. Karena badan sudah capek, begitu matahari terbenam, kami langsung istirahat. Makan tadi udah setelah tenda berdiri. Next, buat besok ke Puncak Hargodumilah.  

Next kita berangkat besoknya ke Puncak jam 04.00 yan. Lihat betapa kerenya Puncak dan perjuangan untuk sampai ke sana di artikel selanjutnya :
"Puncak Hargo Dumilah 3265 mdpl" :)

Popular

Kurnia Agung Pamungkas a.k.a kagung13, Seorang blogger yang percaya bahwa menulis adalah cara terbaik mengabadikan moment dan pemikiran berharga dalam hidup.

Total Pageviews