Enter your keyword

kagung13.blogspot.com | kagung13@gmail.com

Slide Show Mt. Lawu, Agustus 17, 2015

By On February 24, 2016
Versi HQ dari slide show yang pernah di post sebelumnya.

Salam Perpisahan untuk Lawu di Watu Jago

By On February 23, 2016
Lawu, 18 Agustus 2015. Tepatnya di Watu Jago. Kala itu kami bertujuh melepas lelah seteh berjalan turun di siang hari. Menikmati pemandangan yang masih bisa dipandang. Melihat awan yang masih terlihat di sini. Lelahpun hilang sesaat kala tas carier merah kuturunkan sejenak. Saat menyandarkan diri di sebuah batu besar bernama Watu Jago. Beberapa detik saja terbesit suasana sejuk dan nyaman serasa ingin berlama-lama berada di sana. Tapi apalah daya. Banyak yang juga menunggu di bawah sana. Pekerjaan, Perkuliahan, Teman-teman, Orang Tua, dan tentunya angkot juga bis yang akan mengantar kami pulang. Jikalah terlalu malam kami akan terlambat pulang dan tak menemui angkutan lag. Sebagai lternatif ya hari menginap satu malam lagi. Tapi alhamdulillah hal itu tak terjadi.
Terlihat beberapa orang berlalu lalang melewati tempat persinggahan sementara kami. Perjalanan masih agaj jauh sekitar 2 - 3 jam lagi. Yah, istirahat menjadi alternatif yang jitu saat ini. Sekaligus salam perpisahan kepada awan dan puncak. Karena keduanya masih terlihat dari sini. Berharap suatu ketika dapat kembali lagi ke sini, kembali mengunjungi ketinggian pertama yang saya unjungi, dan kembali bersuka ria bersama teman-teman, menemukan teman baru, berkenalan, kenudian akrab. Mendapat pengalaman baru tentang team work, kebersamaan dan sebuah slogan, "No Leader, Just Together". Ya tak ada pemimpin di antara kami. Kami hanyalah sekelompok amatir yang memimpin diri kami sendiri dan bersama-sama dengan satu tujan, dengan saling bekerjasama dan mengingatkan.

Tibalah saatnya kembali melanjutkan perjalanan. 2.400 Mdpl, Watu Jago, kami pulang, Terima kasih memberi tempat yang nyaman untuk beristirahat dan merenung. Memberi tempat indah untuk mengabadikan momen yang indah juga. Kebersamaan, teamwork, dan guyonan-guyonan konyol kami. Hahahaha, selamat ber-Nostalgia semua dan selamat berNostalgi(L)a untuk saya.
" No Leader Just Together "

Salam 2.400 Mdpl, Watu Jago, Mt. Lawu
Catatan 3265, 17-18 Agustus 2015, kagung13

Telaga Sarangan, Masih Latepost di Kaki Gunung Lawu

By On February 23, 2016
Masih satu sequel dari cerita di Grojokan Sewu, Tawangmangu. Latepost, 2015. Telaga Sarangan atau juga disebut dengan Telaga Pasir oleh masyarakat setempat. Jika dari Surabaya menuju Grojokan Sewu, Tawangmangu, kita tentu melewati jalur ke Telaga Sarangan. Tinggal kita memilih belok sedikit atau terus saja. Kala itu kami memilih terus ke Grojokan Sewu sedangkan siangnya, baru menuju ke Telaga Sarangan. Siang-siang gitu pake jaket mas? Iya, hawanya masih dingin tak rasa, makanya make jaket, walaupun celana pendek. Yang belum baca cerita di Grojokan Sewu, lihat dulu gih di
Pagi Dingin, Tawangmangu.

Telaga Sarangan merupakan sebuah telaga dengan kedalaman 28 m dan luas area 30 hektar yang berada di area kaki Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur. Merupakan Telaga dengan pemandangan bukit yang indah berlatar Gunung Lawu, suasana yang sejuk cenderung dingin dan air yang kelihatan segar sekali. :) Ada fasilitas mengelilingi telaga dengan perahu boot dengan membayar fee tentunya kalau tak salah 60rb satu perahu diisi 4 orang + 1 supir. Kita bisa melihat pemandangan berkeliling telaga, mengambil foto di sebelah tengah, dan tentu sedikit atraksi perahu di akhir perjalanan. Sedangkan untuk Anda yang suka berpetualangan, Anda bisa berkeliling hutan pinus yang ada di area ini juga. Atau menuju ke air terjun Tirtosari yang juga selokasi.Lumayan nyari hawa segar, udara sejuk pepohonan dan rasa khas hutan yang selalu membuat rindu. :) 

Tak lengkap rasanya jalan-jalan tanpa membaur dengan lingkungan sekitar. Tentunya, kuliner jadi salah satu caranya. Banyak banget kuliner di daerah sekitar sini. Yang paling banyak diceritaiin orang-orang di daerah sini ya Sate Kelinci. First Time makan sate kelinci langsung 2 porsi. Lha enak kok piye mas/mbak. :) Banyak lagi makanan khas tapi saya saat itu hanya tertarik dengan Sate Kelincinya. Entah temen-temen yang lain makan apa. Satu lagi yang juga wajib di eksplore saat bicara tentang Gunung Lawu, bkit, lereng, puncak, sampe kaki gunungnya. Tentu ada cerita-cerita legenda, mitos atau sejaranya. Ini dia yang juga musti diceritakan balik ke temen-temen semua. Yah, nambah pengetahuan atau refresh buat yang udah pada ngerti supaya kita bisa tahu dan lebih menghargai kekayaan alam dan budaya di daerah setempat, umum dan lebih luasnya di Indonesia ini.

Nah ini dia seputaran legenda dari Telaga Sarangan ini :
Konon katanya dulu ada sepasang suami intri bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir, keduanya tinggal di hutan Gunung Lawu dan berteduh di sebuah pondok di sebelah timur Gunung Lawu. Suatu ketika Kyai Pasir pergi ke ladang untuk bekerja, menebangi pohon dan saat itu ia menemukan sebutir telur yang kemudian dibawanya pulang, direbus dan dimakan berdua dengan Nyai Pasir. Saat Kyai Pasir kembali ke ladang untuk melanjutkan pekerjaan setelah makan telur tadi, sesampai di ladang, Kyai Pasir kesakitan dan secara gaib berubah menjadi seekor naga. Begitu juga terjadi dengan Nyai Pasir yang kemudian mnyusul suaminya ke ladang. Saat di ladang yang ditemuinya ternyata seekor naga, karena rasa sakit yang amat dirasakan Nyai Pasir, tak diperdulikan lagi naga tersebut dan secara gaib Nyai Pasir pun berubah menjadi seekor naga. Keduanya berguling-guling karena kesakitan, semakin lama gulingan mereka membentuk sebuah cekungan besar dan menyembur air. Dalam sekejap cekungan itu terisi penuh air dan itulah asal mula telaga Pasir ini yaitu telaga yang terjadi karena ulah Kyai Pasir dan Nyai Pasir yang kemudian dikenal dengan Telaga Sarangan ini.
Nah balik lagi ke Telaga Sarangan, 2015 nya. Alternatif yang saya katakan tadi kita bisa berkeliling dan ambil foto di tengah-tengah telaga. Yang lebih asyiknya, suasananya sejuk bnget, ditengah telaga rasanya adem pingin-pingin nyebur tapi gak bisa berenang. Lagian lagi tentu gak boleh nyebur juga sepertinya, soalnya tak terlihat satu orangpun yang nyebur.
Selesai muter-muter, saatnya Sate Kelinci. Nah, biar lebih greget cobain kesini sendiri, makan Sate Kelincinya sendiri, dan muter-muter telaga liat pemandangan yang syahdu banget. Jangan lupa nih jalan-jalan ke hutan pinus, sama mampir ke Air Terjun Tirtosari nya. Nah, lengkap kan. Okesip, ditunggu tag-tang liburan kalian. Selamat Liburan, selamat Nostalgi(L)a buat saya. :)

Kompetensi, Solusi Jitu Masalah Pengangguran

By On February 22, 2016
Bicara masalah penggangguran, tak ada habisnya pembahasan mengenai itu. Bahkan penekanan angka pengangguranpun setiap harinya serasa tak pernah terdengar kabarnya. Yah, lulus kuliah, mendapatkan ijazah, ipk, dan gelar, merupakan impian sebagian orang dari kita. Mahasiswa, Wisudawan, Sarjana, Diploma, jenjang yang mereka sebagian dari kita pilih dalam hidupnya. Lalu, setelah semua fase tersebut, dunia kerja-lah fase berikutnya yang kemudian harus dijalani.

Ibarat jika sebagian dari kita mendaftar kuliah, dengan berbekal hasil Ujian Nasional SMA/SMK kita, ditambah beberapa tes akademik, dan rentetan test penjaringan lainnya, masuk dunia kerja tak banyak berbeda dari segi prosesnya. Di dunia kerja, atau sering kita sebut rekruitmen banyak sekali dilakukan untuk memperoleh tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan. Jika melihat statistik, rekruitment banyak sekali dilaksanakan setiap harinya oleh berbagai perusahaan baik kecil, menengah, hingga besar. Para pelamarnya pun banyak sekali dari lulusan perguruan tinggi yang saat ini kita sebut pengangguran.

Indonesia merupakan negara dengan tingkat usia produktif yang cukup tinggi. Dibanding dengan jepang misalnya. Di negara tersebut, dipenuhi pensiunan lanjut usia dengan umur panjang. Terlebih di Jepang sedikit sekali dari mereka yang mau menikah, jika pun menikah, tak banyak dari mereka yang ingin mempunyai banyak anak. Sedangkan di Indonesia, anggapan banyak anak banyak rejeki masih dipegang teguh beberapa orang.

Lalu, kenapa masih banyak sekali penganggurang? Kita lihat terlebih dahulu statistiknya :
Sekitar 7,5 juta jiwa penduduk Indonesia menyandang status pengangguran terbuka, yaitu mereka yang sama sekali tidak bekerja dan benar-benar menganggur dengan tidak memperoleh income. Nah, yang lebih memprihatinkan lagi, 680 ribu orang diantaranya adalah lulusan perguruan tinggi yang mempunyai ipk, ijazah, dan gelar.
Nah, pertanyaan kemudian muncul kenapa hal ini terjadi, padahal kita tahu lowongan kerja banyak sekali kita lihat setiap harinya. Di surat kabar misalnya, iklan di televisi, belum lagi media online. Lalu kenapa masih banyak pengangguran padahal 680 ribu jiwa diataranya adalah lulusan perguruan tinggi yang notabene masuk dalam kriteria rekrutmen banyak perusahaan.

Jawabanya adalah sebagai berikut :
Perusahaan membutuhkan SDM yang berarti ada kebutuhan  dan SDM membutuhkan pekerjaan yang berarti ada supply. Lalu kenapa masih saja ada pengangguran. Hal ini disebabkan karena kebutuhan perusahaan terhadap SDM adalah kompetensi, sedangkan yang ditawarkan SDM adalah IPK, Gelar, dan Ijazah. Nah dari sini sudah jelas terlihat tak ada kecocokan antara kebutuhan dan supply.
Dari jawaban di atas tentu jelas Kompetensi lah yang berar nyata dibutuhkan perusahaan, bukan sekedar gelar, IPK, dan ijazah. Sedangkan sejak dari dulu di lowongan pekerjaan selalu tertulis, dibutuhkan lulusan D3, S1, atau S2. Bukankah seharusnya di lowongan pekerjaan tertulis, dicari karyawan lulusan perguruan tinggi dengan kompetensi bla bla bla sesuai dengan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia).

Apa itu KKNI dan penjelasan lengkap tulisan di atas dapat dilihat di video berikut :


Pagi Dingin Tawangmangu, Grojokan Sewu

By On February 22, 2016
Tawangmangu, Mei 2015. Sebuah lokasi yang berada di Kabupaten Karanganyar ini sangat terkenal dengan hawa dinginya. Banyak orang bilang sejuk, tetapi menurut saya dingin, Hal ini dikarenakan adaptasi yang sedikit terlambat dari semula berhawa panasnya kota Surabaya, langsung menjadi dinginnya Tawangmangu.
Perjalanan dimulai dari Surabaya saat itu pukul 11pm. Berangkat menggunakan mobil sewaan langsung menuju Tawangmangu. Sampai di daearah sini kurang lebih jam 4am, karena banyak berhenti dan sedikit menikmati pemandangan sepanjang jalanmenuju Grojokan Sewu ini. Yaitu tanjakan pegunungan di daerah sekitar magetan, terlihat telaga sarangan dan juga pintu masuk (Base Camp) Pos pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu, kemudian beberapa kilometer berikutnya Pos pendakian Gunung Lawu via Cemoro Kandang. Tebesit pikiran konyol kala itu dimana saya mengajak teman-teman seperjalanan mampir ke BaseCamp dengan maksud sedikit mendaki. Karena terlihat Pos BaseCamp sangat besar dan bagus, seperti area wisata dengan harapan bisa menikmati beberapa mdpl udara sejuk dan pemandangan yang bagus. Dan ternyata setelah browsing, Gunung Lawu yang memiliki ketinggian 3.265 Mdpl itu, dengan rute yang menanjak di Cemoro Sewu sangat tidak mungkin mendaki beberapa mdpl pun dengan kondisi saya dan kami saat itu dengan tanpa persiapan apapun. Yah, namanya juga pemikiran konyol. Dengan kemudian beberapa bulan kemudian tepatnya 18 Agustus 2015, Alhamdulillah saya bisa sampai ke Puncak Hargo Dumilah, Puncak Gunung Lawu. Lihat juga bagaimana serunya perjalanan kami ke Puncak Hargo Dumilah di
Mt. Lawu - 3.265 Mdpl.

Balik lagi ke perjalanan menuju Grojokan Sewu Tawangmangu ini, Setelah melewati beberapa pemandangan yang eksotik khas lereng pegunungan, akhirnya kami sampai di pintu masuk menuju Air Terjun Grojokan Sewu. Jangan lupa beli tiket dulu, parkir kendaraan yang bagus, dan sarapan alau perlu atau setidaknya teh anget buat menghangatkan badan dan suasana dinginnya Tawangmangu.
      
Nah, gambar sebelah kiri itu tempat parkir kendaraan kita, kemudian kita jalan kaki kira-kira 300 m ke bawah sampai di pintu masuk selamat datang pada gambar kanan. Nah dari pintu masuk, jalan lagi menurun melewati tangga dan jalan setapak kira-kira 500 m

Estimasi panjang track itu cuma kira-kira pengalaman pas ngetrack aja, bukan patokan sebebarnya. Tapi jauh deketnya track nanti bakal kalah kok sama indahnya pemandangan sama udara sejuknya Tawangmangu, apalagi di waktu pagi seperti pada saat saya berkunjung waktu itu. Capeknya tracking bener-bener enggak kerasa.

Ngomong-ngomong soal Grojokan Sewu, ini yang wikipedia bilang :
Grojogan Sewu berarti air terjun . Meski air terjun di sini tidak berjumlah seribu, tetapi ada beberapa titik air terjun yang dapat dinikmati di sini. Kata sewu atau seribu disini berasal dari seribu pecak, atau satuan jarak yang digunakan saat itu yang merupakan tinggi air terjun. Satu pecak sama dengan satu telapak kaki orang dewasa. Air terjun tertinggi yang ada tingginya sekitar 80 meter. Ada pula air terjun yang tidak terlalu tinggi tetapi pancurannya meluas dan membentuk cabang-cabang. Bila sedang musim hujan, sekeliling tebing akan dihujani air terjun, tetapi saat musim panas, banyak air terjun yang kering.

Nah ada juga beberapa mitos di Air Terjun Grojokan Sewu ini :
Konon jika suatu pasangan yang statusnya belum menikah atau pasangan yang masih dalam tahap pacaran pergi ke air terjun grojogan sewu dan melewati jembatan tersebut maka hubungannya pasti akan berakhir entah itu karena sebab apa tetapi banyak orang yang mempercayainya terutama warga sekitar. Mitos ini sudah berkembang sejak jaman dulu dan tidak diketahui secara pasti kapan mitos ini ada. Oleh karena itulah jembatan ini mendapat sebutan “kreteg pegat” yang artinya jembatan pemisah. Selain itu konon air terjun grojogan sewu pernah digunakan Baladewa putra Bima untuk bertapa saat sebelum terjadinya perang Bharatayudha agar Baladewa tidak ikut perang karena khawatir kesaktiannya tidak dapat ditandingi.
Balik lagi ke bahasan jalan-jalan kita, di sini banyak sekali kera-kera liar yang berkeliaran. Tenang, mereka enggak nakal kok, pokonya kalau kita enggak ganggu dan berniat baik, pasti mereka si kere-kera itu juga enggak bakalan ganggu. Yang penting tetap berhati-hati dan jaga sikap.

Lain lagi udara, suasanan dan pemandangannya enak banget. Sejuk. Enak banget buat menyendiri. Bertapa misalnya, atau cari wangsit. Hahahaha. Maksudnya itu bertapa, cari wangsit itu ya cari pencerahan dari renungan-renungan yang kita renungin sendiri. Saat suasana tenang biasana pikiran kita bisa mencetuskan solusi-solusi dan ide-ide baru yang relevan dengan renungan kita. Itu yang saya mangsud wangsit. :) Ingat relevan lho ya, "RELEVAN". :)
Oke silahkan lihat sendiri keindahan-keindahan Air Terjun Grojokan Sewu ini versi saya. Maaf jika gambar kurang berkenaan karena diambil dari handphone jadul dengan kamera 5 megapixel. Semoga berkesan. Jika kurang berkesan, silahkan datang sendiri ke sini dan nikmati sendiri agar berkesan dan ada nilai tersendiri untuk diri sendiri. :) Hehehehe. (Terlalu Banyak Sendiri). 
           
Masih banyak Latepost Trip yang belum di share. Jadi tetap rajin-rajin kunjungi blog ini buat referensi yang pingin jalan-jalan bisa banget lho atau tanya-tanya langsung aja ke kolom komentar. Insya Allah akan dijawab sesuai pengetahuan dan pengalaman saya. :) Thank's.

From Green Bay, Banyuwangi

By On February 19, 2016
Latepost banget, Mei 2015. Green Bay yang dalam bahasa Indonesia berarti Teluk Hijau, dan kebanyakan orang-orang menyebutnya Teluk Ijo adalah sebuah Teluk yang berada di daerah Banyuwangi yang menyajikan suasana pulau pribadi dan pantai yang eksotik.
Rute dimulai dari Surabaya sekitar jam11 pm, yang langsung menuju kawasan GrenBay di daerah Banyuwangi. Entah bagaimana perjalanan melewati daerah perkotaan, gapura perbatasan, kawasan industrial, hutan belantara nan sepi yang akhirnya membawa kami sampai ke lokasi sekitar jam 6 am. Lokasi disini maksudnya start point menuju GreenBay-nya. GreenBay ini dari lokasi (basecamp saya sebut) dapat ditempuh dengan 2 cara yaitu menyebrang dengan kapal atau tracking sekitar 1-2 jam. Setiap pilihan menawarkan tantangan dan suguhan pemandangan yang berbeda tergantuk kesukaan kita menikmatinya. Jika melalui jalur penyebrangan, kita akan naik kapal nelayan yang saat itu kira-kira dikenakan biaya 35 ribu/orang, pemandangan sekitar adalah laut dan pulau-pulau, tebing, dan hijau-hijauan disekitar batas luar pulau-pulau kecil. Sedangkan jika melalui jalur track, ada lebih banyak lagi pemandangan dan hal yang bisa dieksplore. Track yang bervariasi, suasana hutan, dan hembusan angin di sela-sela pohon.

Tak ada banyak hal yang bisa diceritakan disini. Yang jelas, keren tempatnya, suasananya juga enak, Tapi tak usah berlama-lama menikmatinya karena jika suasana sepi, Anda akan sangat bosan karena interaksi sangat terbatas. Pastikan bawa logistik yang cukup jika akan sedikit berlama-lama. Pastikan juga untuk sampaikan jadwal yang tepat untuk jasa penyebrangan kapal untuk pejemputan.

Langsung saja liat sendiri bagaimana kerennya GreenBay (Teluk Ijo), Banyuwangi! Keren.
  
Semua gambar adalah asli diambil dari kamera hp jadul 5 megapixel. Jadi mohon maaf jika gambar kurang berkenan dan tak begitu melegakan hati Anda. Jika ingin yang lebih lega, Lihatlah langsung dengan mata kepala masing-masing. Heheh. :D

Cerita Tentang Sore, Hujan, dan Dingin

By On February 08, 2016
Februari 8, 2016

Saat hujan mulai turun ketika matahari mulai bersiap digantikan sinarnya oleh bulan. Hujan sering turun beberapa hari belakangan ini waktu sore. Ketika kemarin tak kutemui hujan sama sekali, kali ini hujan turun begitu derasnya hingga sedikit menggangguku untuk berangkat kerja. Mengganggu mood yang tadinya bersemangat menjadi syahdu. Hujan selalu membawa kesyahduan tersendiri bagi sebagian orang. Dan sebagian dari mereka adalah saya. Hujan ibarat membawa pesan-pesan bermakna entah dari siapa kepada siapa. Mungkin pesan dari laut untuk tanah atau pesan dari angin untuk laut, atau langit untuk bumi dan mungkin kamu untukku.

Telah kutemui beberapa hujan di beberapa tempat selama 23 tahun ini. Rasanya tak banyak menakutkan. Hujan hanyalah mengubah persepsiku tentang suasana saat itu berlangsung. Semuanya normal, hanya saja saat ini sekitarku penuh dengan air. Berada di bawah hujan, menyentuhnya dan menyapanya menjadi kesenangan tersendiri untukku. Hanya suara petir yang begitu dahsyadnya aku ingat kala itu membuatku roboh karena berusaha melindungi diri. Kemudian berjalan menuju tempat yang kurasa lebih aman. Tak begitu menakutkan. Bahkan saat aku sedang sendiri di atas sana. Berdua tapi serasa sendiri menikmati tetesan hujan dari dalam terpal ajaib penghalang hujan. Kuingat setiap ritmenya kala itu. Tik tik tik, dan semakin deras. Dengan ritme cepat kemudian melambat kemudian cepat lagi. Kuingat sebagian dari mereka menyelinap masuk tanpa permisi. Memenuhi isi rumah temporer kami yang memang masih tersisa sangat luas saat itu. Tak ada pilihan lain selain mengeluarkan mereka karena mereka tentu tak dapat keluar sendiri. Dingin menusuk kulit saat kusentuh dia yang berkumpul di pojok ruangan. Sedikit demi sedikit akhirnya hanya tetesan yang tersisa.

Cukuplah merenung bersama hujan, memejamkan mata adalah salah satu cara lain menikmati hujan. Memejamkan mata kemudian terlelap di bawah hujan dengan sesekali dibelai mesra tetesannya, dengan sesekali tersadar tapi tetap terpejam karena hawa dinginnya. Menunggunya berlalu sambil merasa terjaga dengan kehangatan yang juga dibawanya, air dan hujan.

Catatan tentang sore, hujan, dan dingin. Februari 8, 2016. @kagung13

Popular

Kurnia Agung Pamungkas a.k.a kagung13, Seorang blogger yang percaya bahwa menulis adalah cara terbaik mengabadikan moment dan pemikiran berharga dalam hidup.

Total Pageviews